Menyelamatkan Sungai Barito Dari Pencemaran Dan Sampah

Sampah Sungai Barito

 

Sungai Barito adalah sungai yang menjadi pusat peradaban bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Akan tetapi sungai yang semestinya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, sekarang berubah menjadi ancaman bagi kesehatan akibat limbah dan perila ku hidup tidak sehat. Bayangkan saja seandainya ada 10.000 orang yang membuang hajat ke sungai setiap hari dengan frekuensi sekali saja per hari, dengan bobot 3 ons/ orang, maka beban pencemaran yang harus diuraikan oleh sungai setiap hari adalah 3 ton. Kalau sebulan? Setahun? Tentunya hal ini menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai penyakit yang disebabkan bakteri e-colli yang berasal dari tinja tersebut. Belum lagi sampah rumah tangga dan limbah perusahaan seperti batu bara yang yang banyak ditemui di sungai Barito yang menyebabkan aliran sungai terhambat dan memungkinkan terjadinya pendangkalan sungai, serta banjir.

Hal lain lagi yakni dampak reaksi kimia dari limbah tambang dan limbah rumah tangga yang berlebihan seperti pengggunaan detergen yang mengganggu kesinambungan biota sungai serta jumlah sampah yang selalu bertambah setiap tahunnya. Sungai yang dahulu tidak lagi seperti sekarang. Entah bagaiman nasib sungai Barito 20 tahun mendatang? Kalau kita tidak antisipasi dari sekarang, maka hilanglah peradaban Sungai Barito yang dulunya menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat dan tentunya ini hanya akan jadi kisah mulut ke mulut bagi anak cucu kita semua. Oleh karena peranan masyarakat dan pemerintah serta semua pihak wajib disinergikan agar kelak sungai Barito bisa seperti semula.

Dampak pencemaran sungai yang saat ini terjadi sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat, baik yang disebabkan oleh aktivitas penambangan batu bara, pembuangan sampah rumah tangga, maupun perilaku hidup masyarakat yang tidak sehat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai, yakni membuang hajat sembarangan. Akibat dari hal ini banyak masyarakat yang terkena penyakit, seperti diare, munta-ber dan lain sebagainya. Saat ini masyarakat yang memanfaatkan sungai Barito harus menampung air yang mereka ambil didalam tong dan dibiarkan 3-4 hari baru bisa di gunakan untuk keperluan sehari-hari, itupun harus menggunakan tawas. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas keseharian mereka. Untuk keperluan minum dan memasak mereka harus membeli air per jeriken dengan kisaran harga RP 2.500/jeriken. Sungai yang sejak zaman dahulu menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat sekarang sudah tercemar.

Pencemaran Sungai Barito

Baik secara langsung maupun tidak, masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai penopang kehidupan secara tidak sadar sudah mengkonsumsi racun dari zat-zat kimia yang berada di dalam air tersebut. Habitat air pun seperti ikan yang sering di konsumsi manusia dan berasal dari sungai barito perlu diwaspadai, karena mereka pun terkena dampak racun yang mengandung zat kimia berbahaya. Agar kelestarian sungai Barito tetap terjaga, perlu ada kerjasa-ma yang sinergi antara pemerintah, perusahaan yang beroperasi memanfaatkan aliran sungai, serta masyarakat. Adapun penanggulangan pertama yang harus dilakukanan pemerintah adalah membuat Peraturan Daerah (Perda) yang melarang perusahaan-perusahaan membuang limbah cair atau padat, secara langsung ke sungai, terkecuali limbah tersebut telah diproses sehingga kadarnya aman dan tidak berbahaya bagi lingkungan.

Apabila ada perusahaan yang melangar, perlu sanksi hukum yang tegas, jangan sampai ada oknum-oknum nakal yang memanfaatkan keberadaan Perda ini untuk melakukan Pungli atau praktek KKN sehingga Perda ini hanya menjadi Symbol sebagai wujud kepedulian Pemerintah kepada masyarakat. Kedua, Pemerintah membuat Perda yang melarang masyarakat membuang hajat secara langsung di sungai, serta membuang sampah rumah tangga ke sungai. Dalam hal ini pemerintah melalui dinas kesehatan menjadi ujung tombak utama, agar sungai Barito kembali seperti dulu lagi.

Ketiga, pemerintah harus mensupport dana secara terprogram untuk kelestarian sungai, baik dengan mengadakan sosialisasi maupun dengan membuatkan masyarakat jamban yang sehat. Akan tetapi kendala saat ini masyarakat masih banyak yang tidak sadar akan pentingnya kesehatan, karena mereka beranggapan bahwa perilaku membuang hajat di jamban sudah merupakan tradisi turun- temurun dan merupakan warisan nenek moyang. Pemerintah bisa membuatkan sep-tic tank apung, sehingga tinja bisa dikuras apabila sudah penuh, kemudian bisa dijadikan sebagai pupuk atau diolah menjadi biogas, sehingga perekonomian masyarakat meningkat.

Keempat, Pemerintah harus menempatkan tempat pembuangan sampah di sekitar pemukiman warga yang berada di bantaran sungai, sehingga mereka terbiasa untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan. Kemudian pemerintah melakukan pelatihan pengelolaan sampah, sehingga sampah tersebut bisa menjadi bahan yang berguuna dengan harapan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Kelima, Pemerintah harus melakukan evaluasi secara berkala, sehingga keberadaan Perusahaan yang memanfaatkan aliran sungai Barito, serta perilaku hidup masyarakat yang tidak sehat bisa perbaiki dan akhirnya sungai Barito bisa seperti dulu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s