Yohanes Chandra Gelar Pameran Baju Koko

Baju koko identik dengan busana muslim. Biasanya, orang Indonesia melakukan pembelian baju koko secara besar-besaran saat menjelang hari raya lebaran, baik itu idul fitri maupun idul adha. Peluang ini digunakan sebaik-baiknya oleh Yohanes Chandra Eka. Ia mempunyai visi supaya penjualan baju koko bisa stabil meskipun tidak menjelang hari raya.

 

Menurut Yohanes Chandra Ekajaya, supaya penjualan baju koko bisa stabil yang harus ia lakukan adalah memberikan informasi mengenai baju koko selengkap dan sekomprehensif mungkin. Baju koko pada mulanya digunakan oleh para biksu yang sekaligus pendekar di shaolin. Mereka menggunakan baju koko tersebut karena tidak membuat panas dan berkeringat ketika melakukan banyak gerak.

 

Pengusaha Yohanes Chandra Ekajaya melanjutkan ceritanya bahwa setelah beberapa abad akhirnya banyak para pendekar shaolin yang turun gunung dan membaur ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di shaolin dan menjalankan dharma. Sehingga baju koko para pendekar ini lama-kelamaan juga dicontoh oleh masyarakat umum di daratan Tiongkok.

 

Dalam abad tersebut, di daratan Tiongkok yang terkenal dengan jalur suteranya sudah berhubungan dengan bangsa-bangsa lain, diantaranya Persia, Gujarat, Arab, dan sebagainya. Bangsa-bangsa tersebut kebanyakan beragama Islam. Yohanes Chandra kemudian menambahkan bahwa penduduk Tiongkok yang juga pendekar dan memakai baju koko banyak yang memeluk agama Islam. Salah satu diantaranya adalah Wong Fei Hung yang menguasai kungfu belalang sembah. Kungfu belalang sembah merupakan salah satu jenis kungfu andalan yang hanya dimiliki oleh para muslim Tionghoa.

 

Dalam penjelasan berikutnya, Yohanes Chandra Eka kemudian menambahkan keterangan bahwa para pendekar muslim Tionghoa, karena adanya perubahan politik dan ekonomi, akhirnya berdagang ke Nuswantara. Banyak dari mereka yang melancong ke negeri naga selatan. Saat tiba di kepulauan Nuswantara, para pendekar muslim Tionghoa tersebut banyak yang berbaur dan masyarakat sehingga seperti di daratan Tiongkok, para penduduk Nuswantara pun mulai meniru dan membuat baju koko tersebut.

 

Yohanes Chandra Ekajaya menjelaskan karena penduduk atau rakyat Nuswantara saat itu sudah dominan muslim, maka baju koko biasa dipakai untuk acara-acara keagamaan Islam. Seperti ke masjid, pengajian, atau pun untuk kegiatan sehari-hari. Makanya kemudian sangat wajar jika di Indonesia baju koko menjadi identik dengan busana muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s